Gejala Gagal Ginjal Kronis

Gejala Gagal Ginjal Kronis – Seorang pria yang memakai masker mulut mengulurkan tangannya. Dia menunjuk lubang jarum. “Ini adalah tusukan jarum selama tujuh tahun cuci darah,” katanya.

Namanya Tony Samosir, anggota dari Komunitas Hemodialisis Indonesia (KCDI). Tujuh tahun lalu, Tony didiagnosa Penyakit Ginjal Kronis (PGK). Namun, tak patah semangat, Tony membuktikan bahwa dengan pengobatan yang tepat, pasien CKD bisa panjang umur.

Gejala Gagal Ginjal Kronis

Ginjal merupakan organ penting yang berfungsi menjaga komposisi darah. Cara kerja ginjal mencegah penumpukan limbah dan mengontrol keseimbangan cairan tubuh. Kemudian, jaga agar kadar elektrolit seperti natrium, kalium, dan fosfat tetap stabil. Ginjal juga menghasilkan hormon dan enzim yang membantu mengontrol tekanan darah, membuat sel darah merah, dan menjaga tulang tetap kuat.

Gagal Ginjal Kronis Pada Anak

CKD terjadi ketika ginjal berfungsi kurang dari 15 persen dari kapasitas normalnya. Saat terjadi gagal ginjal, darah tidak bisa lagi disaring. Sisa zat dan cairan berlebih akan menumpuk di dalam tubuh dan kondisi ini disebut uremia. Ini menyebabkan pembengkakan pada tangan dan kaki dan membuat orang tersebut merasa lelah dan lemah. Jika tidak diobati, penyakit ini dapat menyebabkan kejang dan koma hingga akhirnya kematian.

CKD adalah masalah kesehatan masyarakat global dengan tingkat tinggi, prognosis buruk dan biaya tinggi. Sekitar 1 dari 10 populasi dunia memiliki CKD pada tahap tertentu. Prevalensi CKD semakin meningkat dengan bertambahnya populasi lansia, kejadian diabetes melitus dan hipertensi. Beberapa penyebab CKD adalah diabetes melitus, hipertensi, glomerulonefritis kronis, nefritis interstitial kronis, penyakit ginjal polikistik, obstruksi, infeksi saluran kemih, dan obesitas.

Menurut Global Burden of Disease 2010, PGK menempati urutan ke-27 penyebab kematian di dunia pada tahun 1990 dan naik menjadi urutan ke-18 pada tahun 2010. Sementara di Indonesia pengobatan penyakit ginjal menempati urutan kedua dalam pembiayaan BPJS kesehatan setelah penyakit jantung.

Penyakit ini tidak memiliki tanda dan gejala, tetapi bisa berakibat fatal. CKD tidak menimbulkan gejala dan tanda sampai rata-rata laju filtrasi darah (filtrasi glomerulus) adalah 60 persen. Kelainan baru terlihat ketika laju filtrasi glomerulus turun hingga 30 persen. Pada saat ini, pasien akan mengeluh lemas, mual, nafsu makan menurun dan berat badan turun. Gejala dan tanda uremia akan lebih terasa bila laju filtrasi glomerulus kurang dari 30 persen.

Okezone Edukasi :: Berita Edukasi Seputar Pendidikan Di Indonesia

Hasil Riskesdas 2013 menunjukkan bahwa 0,2 persen penduduk berusia di atas 15 tahun didiagnosis PGK. Lebih banyak laki-laki yang menderita PGK daripada perempuan (masing-masing 0,3 persen dan 0,2 persen). Angka kejadian penyakit ini tertinggi pada masyarakat pedesaan (0,3 persen), putus sekolah (0,4 persen), wiraswasta, petani/nelayan/buruh (0,3 persen). Sedangkan provinsi dengan prevalensi PGK tertinggi adalah Sulawesi Tengah sebesar 0,5 persen, diikuti Aceh, Gorodalo dan Sulawesi Utara masing-masing sebesar 0,4 persen.

Pada tahun 2015, terdapat 1.243 kematian pasien cuci darah. Perawatan dialisis rata-rata adalah 1-317 bulan. Persentase tertinggi diamati pada pasien dengan lama tinggal 6-12 bulan.

Mengatasi Gagal Ginjal Kronis Satu lagi kisah vonis dan perjalanan menyakitkan melawan PGK diceritakan oleh Ambri Lawu Trenggono. Abri adalah orang yang menyukai kegiatan outdoor seperti hiking dan traveling. Pada tahun 2009 ia didiagnosa gagal ginjal, kondisinya semakin memburuk pada tahun 2012 dan dokter menyarankan hemodialisa.

“Saya juga memilih pekerjaan di lapangan. Jadi ketika saya divonis dan kondisi saya tidak mampu melakukan itu, dunia serasa runtuh,” ujarnya.

Chronic Kidney Disease

Saat itu, Ambri bisa dibilang menarik diri dari segala hobi dan aktivitasnya. Dia berhenti bekerja dan merasa tidak berguna. Semua rencana masa depan yang sudah direncanakan, kandas di tengah jalan. Namun karena dukungan dari keluarganya, ia bangkit kembali dan mempelajari berbagai informasi tentang PGC.

Sejak menjalani cuci darah, berat badan Ambri berangsur-angsur menurun dan tekanan darahnya selalu turun setelah berobat. Sejak saat itu ia memutuskan untuk menjalani terapi dialisis peritoneal (PD). Dia percaya bahwa pengobatan PD adalah pengobatan yang paling efektif. Sebab, bisa dilakukan dimana saja tanpa harus ke pusat cuci darah untuk melakukan cuci darah.

Setelah itu, hidupnya perlahan membaik. Berat badan awalnya 55 kg bertambah menjadi 65 kg. Abri kini bebas bepergian lagi dan kembali hidup normal seperti sedia kala. Kuncinya adalah disiplin mengikuti anjuran dokter setiap bulan, mengikuti anjuran dalam mengganti cairan, disiplin pola makan dan pola hidup sehat.

Menurut dr. Tunggul Situmorang, SpPD-KGH, Perhimpunan Nefrologi Indonesia (Pernefri) Pasien PGK memiliki berbagai pilihan pengobatan. Pertama, dialisis biasanya dilakukan oleh pasien CKD dan harus dilakukan di pusat dialisis atau rumah sakit tiga kali seminggu selama empat sampai lima jam per sesi. Darah pasien dikirim melalui filter untuk mengeluarkan racun dari dalam tubuh. Darah bersih kemudian dikembalikan ke tubuh setelah proses penyaringan selesai.

Literature Review Kejadian Depresi Pasien Gagal Ginjal Kronis Yang Menjalani Terapi Hemodialisis

Kedua, Transplantasi Ginjal/Penyakit Ginjal Tahap Akhir. Ini adalah pengobatan yang paling ideal untuk menggantikan fungsi ginjal. Namun, pengobatan ini seringkali dibatasi oleh kesesuaian donor ginjal. Cara terakhir adalah PD yang menggunakan membran peritoneal sebagai filter untuk membersihkan kotoran dan membuang kelebihan cairan.

Pada PD dialisis, kateter berupa tabung lunak kecil dimasukkan ke dalam rongga perut pasien melalui prosedur pembedahan. Larutan dialisis akan mengalir dari kantong larutan yang diletakkan di tempat yang lebih tinggi ke dalam rongga peritoneal melalui kateter. Sementara itu, cairan kotor di ginjal dikeluarkan melalui kateter lain ke dalam kantong penampung yang letaknya rendah, sehingga terjadi pertukaran cairan.

Ada dua jenis PD yaitu Continuous Ambulatory Peritoneal Cleansing (CAPD) dan Automated Peritoneal Cleansing (APD). Dengan CAPD, pertukaran cairan dilakukan 4 kali sehari selama 30-40 menit per sesi. Dialisis dapat dilakukan secara fleksibel sepanjang hari secara manual, dengan selang waktu 4 hingga 6 jam antar sesi.

Sedangkan APD dilakukan dengan mesin dan dilakukan pada malam hari saat tidur. Durasi adalah 8-12 jam per sesi. Namun sayangnya, hingga saat ini mesin perawatan APD belum dirilis di Indonesia.

Dari 10 Orang Alami Penyakit Ginjal, Mayoritas Tidak Menyadarinya

Perawatan gagal ginjal kronis, gejala penyakit ginjal kronis, terapi gagal ginjal kronis, gejala penyakit gagal ginjal, obat gagal ginjal kronis, cara mengobati gagal ginjal kronis, tanda tanda gagal ginjal kronis, pengobatan gagal ginjal kronis, gagal ginjal kronis stadium 5, gejala gagal ginjal akut, gejala awal gagal ginjal kronis, gejala penyakit gagal ginjal kronis

About sabrina

Check Also

Hilangkan Sakit Ulu Hati

Hilangkan Sakit Ulu Hati – Sakit maag saat berpuasa bukanlah hal baru. Kebanyakan orang mengalami …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *